Donita Bukti Sayang Ibu

DONITA, Bukti Sayang Ibu. Tagline ini punya sejarahnya sendiri. Lahir karena terinspirasi dari kisah nyata saya di masa kecil. Berikut kisahnya, agak panjang tapi tak rugilah untuk di baca.

Ibu saya bercerita, konon katanya, ketika saya kecil, ibu menyuruh saya membeli ketumbar di kedai satu-satunya di kampung saya (sekarang jalan kebun bunga medan). Sepulang dari kedai, ibu saya kaget, karena yang saya bawa dari kedai bukan ketumbar melainkan pisang saleh. Waktu itu ibu saya bilang, “ini eeeknya kucing”, coba liat, mirip sama yang diatas seng (atap) rumah kita. Lalu, ibu pun mendatangi si pemilik kedai, dan menanyakan: “mengapa anakku dikasih pisang saleh, dia kan mintanya ketumbar ?” Jawaban pemilik kedai : dikampung ini, cuma anakmu yang tidak pernah jajan disini. Sejak itu kami dapat “nominasi award” anak yang tak pernah jajan, sama pemilik kedai.

Mengapa ?? Begini kisahnya..

Waktu kecil, nenek saya sering sekali membuat cemilan tradisional seperti lepat pisang, surabi, risol, lupis, pulut, ongol-ongol, bakwan, dan kawan kawannya. Hal ini membuat saya jadi gak pandai dan tak selera tuk jajan diluar dan disekolah, walau uang jajan ada diberikan.

Sehingga satu satunya pemilik kedai di kampung itu memberi saya “nominasi award” anak yang gak pernah jajan di kedainya. Yap, saya merasa cukup dengan cemilan buatan nenek. Cukup mengenyangkan, sehingga tidak lagi berselera untuk jajan.

Ketika nenek saya sudah tidak tinggal bersama kami lagi, ternyata ibu saya melanjutkan kebiasaan nenek. Karena melihat saya yang lebih suka makanan dirumah dari pada jajanan diluar. Melihat saya yang tidak pandai jajan diluar. Melihat saya yang selalu mencari cemilan, karena waktu ada nenek, saya sering menanyakan “ada nek” – “ada nek”, maksudnya ada cemilan nek.

Kesibukan orang tua saya mencari nafkah membuat ibu terkadang tidak sempat membuat cemilan untuk kami anaknya. Sehingga tidak serutin nenek saya. Karena tuntutan harus pergi pagi jam 7 dan pulang jam 7 malam guna mencari sesuap nasi dan segenggam berlian bersama ayah.

Apa yang saya alami waktu kecil itu adalah : ada rasa bahagia yang waktu itu sulit saya menceritakannya, tatkala saya melihat ibu saya, dengan seabrek kesibukannya, memasak cemilan untuk saya. Perasaan senang ini lebih kuat dibandingkan saat nenek saya yang masak, mungkin karena nenek saya dirumah seharian. Saya merasa menjadi anak yang sangat diperhatikan sekali. Merasa tercukupi, ketika saya lapar, ada yang mau di makan di lemari makan, walau ibu tidak dirumah, saya merasa aman, tidak takut kelaparan.

Lalu dengan bangganya dan senangnya, saya mengatakan kepada teman teman saya waktu itu. Ini masakan mamak saya. Mamak saya yang masak. Nah ini pengalaman saya waktu kecil.  Bagi saya, pengalaman ini yang membuat saya gak tega jika keluar kata-kata yang tidak baik dari mulut saya. Karena saya sadar, mulut ini selalu masuk makanan yang ibu masak.
——–

Saya melihat kondisi saat ini. Orang tua khususnya ibu muda saat ini ketika sudah menikah, lalu punya anak, sebahagian karena alasan ekonomi harus sibuk berjuang menjemput rezeki, mencari nafkah, sehingga kegiatan membuat cemilan untuk anaknya menjadi kegiatan yang sangat menyita waktu. Ditambah lagi tidak adanya skill mengolah cemilan. Alhasil, ibu muda ini membeli cemilan yang sudah siap dimakan, hanya menghidangkan di meja makan, kondisinya sudah dinign, tidak lagi hangat. Anak tidak melihat aktifitas memasak si ibu sebelum cemilan itu datang ke meja makan.

Entah mengapa, saya melihat dan merasakan, anak anak tersebut tidak mengalami perasaan senang dan bangga pada ibunya seperti apa yang saya rasakan waktu kecil dulu. Saya merasakan kebanggaan anak pada ibu nya menjadi berkurang dibagian tersebut. Khusus dibagian tersebut yaa. Pasti ada bagian lainnya yang menjadi kebanggaan seorang anak pada ibunya.

Nah, saya ingin dengan Donat Donita dan produk Donita Frozen Food lainnya, anak-anak Indonesia merasakan senang dan bangga dengan Ibunya, ketika dia melihat ibunya menggoreng Donat Filling untuk cemilan anaknya di pagi hari, buat bekal sekolah dan bermain.

Saya yakin, ada rasa bangga dan bahagia juga yang sulit diungkapkan oleh seorang ibu, ketika sang anak, dengan riangnya memamerkan kepada kawan kawannya. Hai..lihat, ini Donat buatan ibuku. Ini cemilan buatan ibuku. Ibuku pagi pagi masakin aku donat untuk bekalku disekolah, bekalku dirumah kalo aku lapar habis bermain.

Saya ingin para ibu terharu dan bangga, tatkala mendengar anaknya dengan senangnya dan bangganya mengatakan : ibuku yang masakin donat ini, kamu mau, cobain deh pasti enak. Ibuku walau sibuk, tapi masih sempat masakin aku donat. Ibuku selalu sediakan aku makanan di lemari.

Saya ingin para ibu itu senang melihat anak-anaknya antusias menghabiskan masakan ibunya. Saya berharap dengan upaya kecil sang ibu, yang mau meluangkan waktu memasak cemilan untuk sang anak, akan membekas di hati anaknya, akan menjadi nilai kebaikan bagi anaknya, sehingga anak gak tega untuk melawan orang tuanya. Mudah patuh sama ibunya, kalo kata pepatah “Dari Mulut Jatuh ke Hati”. Apa yang dimakan anak, dan itu datang dari usaha yang ikhlas dari ibunya, maka akan membekas di hati sang anak.

Saya tidak ingin kesenangan dan kebanggaan seperti itu hilang dari anak anak dimasa depan. Karena kesibukan ibunya. Saya ingin anak anak Indonesia mengenang perjuangan ibunya, dengan kesibukannya, masih bisa menyempatkan memasak cemilan untuknya. Bukti ibunya perhatian atas apa yang dimakan anaknya. Bukti sayang ibu pada anaknya.
—————

Walaupun Donat Donita, dan cemilan dari Donita lainnya tidak anda yang mengolahnya langsung dari awal, anak anda belum mengerti hal ini, yang dia tahu, ibunya memasakkan untuknya. Yang ia lihat, ibunya menggoreng cemilan sebelum cemilan itu di hidangkan di meja makan. Beda dengan jika anda membeli Donat atau cemilan lainnya, yang sudah dikotakin siap dimakan, dibawa pulang anak tinggal makan dirumah. Anak anda tidak melihat aktifitas MEMASAK ibunya. Anak tidak melihat ibunya memasak, sebagai kodratnya seorang ibu.

Mari Ibu Ibu Muda, banyak cara menunjukkan bukti sayang ibu pada anaknya. Masak cemilan untuk anak adalah salah satu caranya.

InsyaAllah akan membekas di ingatan Anak, kelak dewasa nanti. Ingatan itu akan membekas : Sebagai sebuah perhatian tulus dari ibunya, yang perduli akan cemilan sehat untuk anaknya. Rela meluangkan waktunya dengan segudang kesibukan untuk menggoreng cemilan sehat untuk anaknya.

Mungkin anda sebagai ibu, menganggap aktifitas memasak ini tidak penting, tapi bagi saya, inilah bukti perhatiannya ibu saya pada saya. Bukti ibu saya perduli pada apa yang saya makan. Bukti ibu saya memahami apa yang menjadi kesukaan saya. Bukti bahwa kesibukan ibu saya tidak membuatnya lupa memasak cemilan untuk saya.

Karena itulah Donita saya beri Tagline : Donita, Bukti Sayang Ibu.
Selamat Hari Ibu. – Donita 2016

Kisah ini saya jadikan Alasan Mengapa Anda Memilih Donita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *