Memajukan UKM Menjadi Niat Donat Donita

Memajukan UKM Menjadi Niat Donat Donita. Donat Donita kembali mendapatkan kesempatan untuk di liput oleh Media Online bernama MHM (Makan Halal Medan). Berikut liputan lengkapnya :

MEDAN. Donat kentang dari Donita Food adalah buah hasil kerja keras dari Renny Wulan Sari beserta suami. Awalnya, Renny berniat untuk memberi makanan terbaik bagi anak-anaknya, makanan yang sehat, enak, halal, higienis, dan tanpa pengawet.

“Di tengah kesibukan para ibu, semakin susah untuk menyajikan makanan yang ideal bagi anak-anaknya,” katanya.

Selanjutnya, Renny juga ingin makanan ini tetap disajikan para ibu, bukan siap saji. Untuk itulah ia berusaha mengembangkan dan memparipurnakan konsep donat kentang yang bisa dibekukan.

“Kalau kita beli langsung donat kesannya ibunya gak buat tapi kalau donat donita ini kan ada proses ibunya harus menggoreng jadi kalau si anak ditanya sama temannya, sama gurunya, bawa makanan dari mana si anak jawabnya ibu yang goreng, jadi ada proses tangan ibu ikut memberi makanan terbaik untuk anaknya,” papar lulusan Pasca Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta ini.

Untuk merealisasikan niatnya itu, pada tahun 2012, ia membuat tim kecil-kecilan untuk menemukan formula agar donat bisa dibekukan namun tetap enak ketika disajikan.

“Membuat donat frozen tidak segampang membuat donat yang langsung disajikan. harus diukur berapa lama ketahannya, masa kadaluarsanya, dan lain sebagainya,” lanjut Renny.

Setelah beberapa mengalami kegagalan sana-sini, akhirnya ia dan timnya mendapatkan formulanya setahun kemudian, tahun 2013. Ia pun langsung melemparkan produknya ke pasar, sekaligus melihat bagaimana respon pembeli. Saat itu, strategi pemasaran masih dari mulut ke mulut, melalui jejaring pertemanan dan kekeluargaan.

Bersama suami, ia pun menamakan produknya “Donita” yang berarti “oleh-oleh” dalam bahasa latin. Donita juga bisa dipanjangkan menjadi “donat aneka cita rasa”.

Go Online

Setahun kemudian, menyusul respon pembeli yang cukup bagus, ia dan timnya membangun tim yang lebih profesional. Anak pertama dari dua bersaudara ini mulai menggarap pasar online dengan membuat website, facebook fan page, hingga memasang iklan facebook ads.

“Tahun 2014 kami juga memperkuat tim marketing, dibikin email khusus marketing, kalau instagram baru setahun belakangan. Membuat website yang bagus suatu keharusan karena di dunia internet sekarang ini rumah online kita ya website,” tuturnya.

Di tahun 2014 ini jugalah Renny memaksimalkan sistem reseller. Ia menerangkan sejak awal ia sudah ingin berbagi dalam menjalankan kegiatan wirausahanya.

“Kalau jual eceran kurang punya kesempatan untuk berbagi untuk orang lain. Untuk itulah dibuat reseller dengan menawarkan harga yang beda dengan harga eceran. Kita pengen jualan dan pengen dapat berkah. Jadi ibu-ibu yang ada jualan online shopbisa sekaligus jualan donat kami,” katanya.

Sejak go online, penjualan produk meningkat. Bahkan sekarang 80 persen penjualan berasa dari online, termasuk reseller tersebut.

“80 persen ketemu konsumen itu ya dari online,” imbuhnya.

Miliki 2 Pabrik

Seiring dengan semakin banyak konsumen, Renny pun akhirnya membuka sebuah pabrik produksi di luar Medan, tepatnya di Bekasi, Jawa Barat. Renny menceritakan, konsumennya ada yang berdomisili di Jakarta, Banjarmasin, Balikpapan, hingga Papua.

“Karena donat kita berat (dalam keadaan beku) jadi kalo dikirim ke Jakarta gak bisa dikirim pakai ekspedisi yang nyampenya satu minggu, sedangkan donat kami expired3 hari di luar freezer. Nah kita kan harus pakai kargo, jadi mahal di ongkos, akibatnya reseller di sana (Jawa) terlalu mahal harganya, bisa sampai 40 ribuan 1 pack. Setelah disurvey dan didata, kami memberanikan diri untuk buka produksi di Bekasi untuk menangani pembelian di daerah Jawa dan sekitarnya. Jadi lokasi produksi ada dua, di Medan di Jalan Pancing, dan di Bekasi,” papar ibu dari dua orang putra ini.

“Produk donat Donita tahan selama tiga hari di luar kulkas, tujuh hari di kulkas bawah, dan dua bulan di dalam freezer,” lanjutnya.

Reny mengutarakan, saat ini omsetnya mencapai 600 pack per hari, termasuk penjualan selain donat kentang yaitu cemilan seperti, risol, pastel, nugget, dan kroket. Donat beku sendiri dijual eceran sekitar Rp 20.000-an dengan isi delapan buah per pack.

“Alhamdulillah saat ini kami sudah memiliki 32 orang karyawan termasuk di bidang produksi,” tuturnya.

Tetap Fokus

Perempuan yang pernah menggeluti usaha ternak belut ini menambahkan, seorang wirausaha harus fokus dan tetap istiqomah, karena menurutnya setiap usaha pasti ada naik turunnya.

“Belajar terus, berusaha meningkatkan semuanya, agar semakin tumbuh lebih besar, dan selalu belajar dari pengalaman. Sebelumnya saya juga sudah banyak berwirausaha seperti jual pakaian batik, buka warnet, jual beli komputer, dagang pakaian” tambahnya.

“Dulu awalnya ya saya yang merangkap sana-sini, jadi kurir, marketing, pernah juga dulu beberapa orang gak bayar ketika barang udah dikirim, tapi ya itu tadi tetap harus fokus dan istiqomah,” sambungnya.

Rencana ke Depan

Mantan konsultan lingkungan ini melanjutkan, Donita Food telah bersertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Saya pengen punya supermarket halal di Medan, menampung semua produk-produk halal, membantu teman-teman UKM, karena banyak UKM yang punya produk enak tapi susah di pemasaran dan penjualan,” sebutnya.

Selain reseller, Renny juga memasarkan produknya ke beberapa supermarket di Medan, seperti di Pondok Indah, Palangkaraya, Berastagi Supermarket, hingga Transmart.

“Tapi kalo lebih pengen penjualan langsung ke end user, atau reseller yang langsung. Oleh karena itu kami memberikan fasilitas ke reseller dengan mengantar ke mereka. Gojek dan gofood juga banyak memudahkan kami dan UKM, tinggal kirim, transfer, selesai,” paparnya.

Renny juga berkeinginan agar donat kentang Donita ada dimana-mana, seperti gampangnya masyarakat menemukan prduk mie instan.

“Kami ingin Donita lebih dari sekedar oleh-oleh, pengen jadi kebutuhan di rumah. Ketika di sebuah rumah tangga butuh snack, langsung goreng donat donita yang sehat tapi gak murahan,” tuturnya.

“Kami juga sedang menjual pao, karena konsumen kami selain UKM juga ibu-ibu yang usianya dewasa ingin mengurangi konsumsi minyak dan gorengan, jadi cari yang snack yang dikukus, termasuk ibu gubernur favoritnya pao kami. Selain itu kan selama ini penjual pao banyak yang non muslim, jadi kehadiran pao kami semoga menjadi hawa segar bagi masyarakat,” tutupnya.

Baca juga : Tak kenal maka tak sayang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *