rendang minang

Ketika donita meluncurkan produk rendang minang, ada kisah menarik sebelum dan setelah produk tersebut diluncurkan. Begini kisahnya, saya tuliskan di Diary Donita.

Pandemi Corona Covid 19 ini ternyata memberi dampak di segala lini, dari usaha kecil hingga usaha raksasa. Ketika pandemi terjadi, para ibu banyak waktu dirumah, saya kira ibu-ibu malah menjadi rajin memasak karena dirumah banyak waktu. Ternyata, tugas dari sekolah anak-anaknya menjadi keluhan banyak ibu, yang itu menyita waktu mereka selama dirumah. Yang belajar bukannya anak, tapi emak dan bapak ikut belajar. Alhasil, tetap saja ibu tidak punya waktu untuk masak. Mungkin, ini lah yang menjadikan permintaan rendang minang masuk ke WA nya Donita lumayan banyak.

Awalnya kami berat dan sungkan untuk mengadakan produk ini, karena itu tadi, berpikir pasti ibu-ibu masak, karena waktunya banyak, ternyata tidak juga. Dan juga kami tidak ada kenalan yang bisa di percaya untuk mengolah rendang minang yang bertaste minang asli.

Suatu ketika datanglah ibu saya, mertuanya renny wulan sari kerumah. Singkat cerita, kami tanyakan “ada gak ma kenalan orang minang yang bisa buat rendangnya enak” kawan-kawan mama. Oh, ada sahutnya dengan cepat, namanya ibu tiiiitt.. (sensor la ya, nanti kelen googling pulak ibu itu, kelen telpon pulak ibu itu, hahaha). Ketika disebut namanya, saya langsung teringat. Oh iya. ya.. Coba lah kita ajak ibu itu main ke Donita.

Adalah seorang ibu yang saya sudah kenal sejak kecil dulu, kami selalu berkunjung kerumahnya saat lebaran, saya dan adik-adik saya menjadikan rumah itu target kedua yang wajib untuk di datangi agar dapat salam tempel alias THR lebaran. Sebab dirumah itu banyak berkumpul yang memberikan THR. Kan lumayan, impian bisa makan es krim magnum bisa terwujud kala itu.

Beliau bersuku minang asli dari bukittinggi, satu kampung dengan ibu saya. Sering dan selalu diminta dan dipercayakan untuk masak rendang minang ketika ada keluarganya atau kenalannya memiliki hajat, mengundang orang banyak, seperti pesta pernikahan, acara wirid, pengajian, bahkan beliau menjadi “kepala koki masaknya” untuk acara rutin Kurban saat lebaran haji komunitas minang Himpunan Masyarakat Galuang.

Singkat cerita, terjadilah pembicaraan bisnis dan deal-dealan. Karena sudah saling kenal, maka KEPERCAYAAN menjadi Akad diawal, tanpa ada kontrak-kontrakan dulu. Ya, ini seperti ikatan bisnis antara anak dengan ibu. Sekaligus melihat kondisi, apakah ini hanya produk happening saja, produk sesaat saja, atau nantinya bisa menjadi produk permanen ada di Donita.

Lockdown membuat acara-acara pesta pernikahan menjadi berkurang dan berhenti, sehingga pemasukan dari masak rendang minang untuk acara pun berhenti. Sebelum lockdown ibu ini juga memproduksi tahu isi yang dijual di kampus anaknya. Karena lockdown produksi itu pun berhenti. Adanya rendang minang yang dijual donita sangat berarti bagi si ibu. Bisa menghidupi dan menambah penghasilan yang telah terhenti.

Kami juga dapat cerita dari si ibu, bahwa pedagang daging sapi tempat si ibu membeli daging langganannya mengatakan : sejak lockdown pedagang sapi sepi dari orderan, padahal udah mau puasa ramadhan, udah mau punggahan, tapi masih sepi. Alhamdulillah ibu rajin beli daging sekarang, daging saya jadinya laku.

Dari cerita ibu ini denga pedagang daging, muncullah ide membuat produk paket punggahan, yang terdiri dari rendang minang, ikan keumamah, ayam tangkap dan tahu isi kampoeng.

Donita bukan lah menjual rendang minang, tapi karena Donita kami tetap bisa membeli Daging dari pedagang daging yang terkena imbas LockDown pandemi covid-19. Bantu donita ya, agar tetap bisa membeli daging.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *